to Golf or not to Golf
Sejak gw mulai tugas gw, beberapa rekan di kantor sudah ngajak gw main golf. well gw bilang “tidak! i dont play golf.” rupanya, rekan-rekan gw insist supaya gw main sampe menawarkan satu set club golf dengan harga cukup murah (second tapi masih bagus loh)… inti jawaban gw sama. banyak yang bilang dalam pekerjaan gw yang banyak berhubungan dengan relasi, aktifitas ini sudah bagaikan sebuah ritus penting dari agama diplomasi. jadi mereka penasaran kenapa… kenapa?
sebelum gw cerita lebih lanjut, gw sangat yakin bahwa rekan2 gw ngga punya niat buruk dan mereka cuman pengen gw ikutan supaya bisa lebih lancar melobi dan bisa menikmati kehidupan
well my colleagues and friends, gw cuman mo jelasin kenapa gw ngga mau main golep, semoga ngga dianggap sebagai serangan terhadap apa yg kalian suka.
kebanyakan teori meyakini permainan ini berasal dari berbagai tempat di eropa dan berkembang pesat di skotlandia. rupanya dulu permainan ini bersama-sama dengan sepakbola sempat dilarang oleh raja inggris king james II pada tahun 1400an demi mempertahankan budaya dan keahlian memanah padahal waktu itu skotland dan inggris lagi perang. baru setelah ada perjanjian damai antara inggris dan skotland, larangan itu dicabut bahkan kemudian raja James IV yang kemudian mempopulerkan golf kembali. sejak saat itu golf telah menjadi permainian kalangan atas para raja dan kaum bangsawan serta golongan borjuis. apalagi dengan didirikannya berbagai komunitas golf eksklusif yang terus ada sampai sekarang ini gengsi permainan ini semakin mahal
tidak heran kalau kemudian permainan ini kemudian diadopsi menjadi suatu ritual dan ‘kewajiban’ moral dalam komunitas diplomatik.
gw memilih tidak main golf hanya karena golf merupakan salah satu olahraga yang potensial mengancam lingkungan hidup dan masyarakat. sudah bukan rahasia lagi pembangunan golf khususnya di indonesia telah menggusur masyarakat dari tanah tradisional mereka. pembangunan padang golf juga mengkonversi lahan-lahan yang seharusnya bagus untuk pertanian.
so kata mereka dari segi lingkungan hidup, padang golf tidak berbahaya. yah memang banyak yang mengira bahwa golf itu melestarikan kehijauan lingkungan. namun demikian masalah lingkungan hidup tidak sesedarhana itu. apakah tumbuhan atau tanaman yang ditanam itu memang berguna bagi lingkungan hidup? perlu riset lebih lanjut mengenai ini. yang cukup jelas adalah bahwa pemeliharaan padang golf menggunakan sistem pertanian yang sangat intensif dengan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan sebagainya… dan ada masalh mengenai hal ini.
so kata mereka itu kan di Indonesia, di luar negeri lain. ada betulnya bahwa di negara “maju” mungkin pembangunan meminta korban yang lebih sedikit tapi jangan lupa kita ini orang indonesia bukan orang luar negeri. kemanapun gw pergi, gw tetep orang Indonesia dan di pikiran gw tetap gw bawa masalah dari negeri Indonesia dalam pikiran gw. apalagi gw kerja untuk yg namanya pemerintah, negara dan rakyat indonesia.
bahkan di eropa sekalipun, masalah padang golf ini baru-baru ini dipermasalahkan sebagai salah satu penyedot air yang rakus sehingga menyebabkan kekeringan bagi para petani:
(klik di sini).While crops wither because farmers can only water their fields three times a week, thousands of swimming pools are full and the 31 golf courses in the Algarve, the country’s main tourist area, are green. Portugal is giving greater priority to golf courses because tourism is a bigger part of the economy than farming.
so kata mereka di luar negeri golf itu bukan permainan elit. betul memang, di sini golf itu cukup murah dibandingkan pendapatan kebanyakan orang di sini. gw ngga melihat golf sebagai suatu kebiasaan lokal yang terpisah dari konteks global. golf itu bukan suatu semata budaya lokal melainkan suatu kultur global. jadi kalau kita bermain golf di belahan lain dunia itu sama saja kita memelihara suatu budaya dari luar lengkap dengan segala konsekuensinya termasuk perluasan dan penambahan padang golf di Indonesia seiring dengan bertambahnya pegolfer Indonesia yang ingin meneruskan kebiasannya di luar negeri. tentunya ada harga yang harus dibayar untuk ini.
so kata mereka golf itu penting buat melobi-lobi. well, golf bisa berguna tapi bukan satu-satunya cara. banyak pendekatan lain yang bisa diambil kok. gw kenal tokoh-tokoh diplomat yang berhasil melakukan lobi-lobi tanpa permainan golf. gw sendiri sejauh ini masih bereksperimen dan coba buktikan bahwa banyak cara melakukan pendekatan dan persuasi di luar golf course.
mari berpikir di luar kebiasaan… bahkan orang ‘bule’ sendiri ngga semuanya suka main golf. kebanyakan malah cenderung mempunyai hobi yang lebih sederhana dan bersahaja seperti lari pagi, sepeda atau kumpul-kumpul barbeque.
so kata mereka pembangunan padang golf bisa membangkitkan ekonomi. Betul juga, tentunya yang perlu kita pikirkan adalah ekonomi macam apa yang akan dibangkitkan. apakah ekonomi yang membangkitkan produktivitas suatu kelompok masyarakat yang lebih luas? atau sekedar konsumsi dari sekelompok kaum golfer dan segelintir pekerjaan sebagai tukang kebun dan caddy bagi orang lokal sementara pengawasan dan manejemen ada di tangan asing? kebutuhan lokal yang didahulukan atau kebutuhan yang lebih bersifat global konsumtif seperti kasus konversi hutan kasus menjadi lapangan golf di Jakarta.
ya udah masih banyak “so kata mereka” tentang permainan golf dan gw ngga bermaksud membahas semua. gw sendiri ngga bilang bahwa pendapat gw terbaik atau absolut benar dan ngga mencoba membuat vonis tentang pendapat orang lain. makanya kebanyakan masih gw biarkan menggantung atau dalam bentuk pertanyaan (bahkan judulnya pun dalam bentuk pertanyaan). so biarlah gw jalani keyakinan gw ini sambil gw terus mempertanyakannya (monggo kalo ada yang mau kritik atau kasih masukan)… mungkin para pemain golf juga perlu melakukan hal serupa.
to golf or not to golf…. that is the question.

Ah, itu semua ‘kan karena elo udah punya sentimen khusus ama golf, mungkin pengalaman buruk masa kecil seperti digebuk ama iron, nelen biji golf nomor 3, or dibentak ama bonyok karena punya cita2 jadi caddie..
Saatnya melangkah dari masa kelam itu, pak. Ngga bakalan nemu beruang ganas atau singa terbang di ladang hijau itu.
Tidak ada yang jauh lebih rileks dan membebaskan daripada berjalan santai dari satu hole ke hole lainnya sambil membicarakan hole-hole lain yang selalu cerewet dan sering berpura-pura birdie..
Golf Hypnosis
Golf Self-Hypnosis
:p :p :p :p
Comment by truegossiper — September 4, 2005 @ 3:28 am
to par or not to par. that’s the question !
Comment by braindamage — September 6, 2005 @ 6:20 pm
seandainya setiap orang menghargai kebebasan pendapat pribadi, sudah sebaiknya yang bermain golf tidak terus “memaksa” orang yang belum bermain golf dan menghargai pendirian mereka untuk belum/tidak bermain hingga mereka sendiri mau bermain.
toh, tidak ada yang mengharuskan kita untuk bermain golf, karena masih banyak hal lain yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang belum/tidak bergolf
to golf or not,
to par or not,
to handicap or not,
to tee off or not,
are about to choose or not
Comment by andi — March 9, 2007 @ 4:56 am
sudah hampir 10 tahun saya diajak, dianjurkan dan dipaksa untuk main golf tapi saya tolak karena pandangan saya seperti tulisan diatas, baru sekarang diusia sudah hampir 50 baru mulai belajar golf.
Saya sadar betul kalau pemikiran saya salah, karena golf sangat banyak manfaatnya untuk saya dan teman2
lapangan golf memang sangat luas dan untuk membuatnya mungkin perlu penggusuran pemukiman, area produktif, dll karena lapangan golf pasti memilih lokasi strategis, ini wajar asal ganti ruginya itung2annya jelas
saya memang mulai kenal beberapa teman yang punya pekerjaan (jabatan) baik dan mereka sangat ramah
saya pikir nggak ada salahnya tambah banyak lapangan golf
coba diitung ada berapa lapangan golf yang menggusur masyarakat dari tanah tradisional mereka dan lahan-lahan yang seharusnya bagus untuk pertanian
karena lapangan golf biasanya juga mencari view yang indah / bagus, bukannya sawah / pemukiman yang datar
karena akan semakin banyak lapangan golf di kota besar diseluruh nusantara
anto
Comment by anto — February 10, 2008 @ 7:06 am